Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Almarhum Sebelum Tertulis di Batu Nisan






Data tak selalu berbicara tentang angka dan fakta. Baginya statistik dan grafik itu bukan lagi informasi sekelabat bayang saja, melainkan nyawa dari cerita. Mereka adalah deras perjuangan, air mata sendu dan semangat yang menggelora. Milka mengawalinya dari ketidaktahuan, kehilangan asa, dan cinta yang dalam.  Seorang broker yang bermula dari broken heart. Mereka menyebutnya pialang saham, yang piawai membaca saham dan investasi di pasar keuangan. Beberapa juga menyebutnya sebagai penjudi yang ulung, spekulan yang berdaulat dan terhormat.

Jarum jam telah membentuk  90 derajat, sementara Milka baru saja menutup laptopnya dan belum menutup mata seditik pun. Tubuhnya sudah meminta direbahkan sedari tadi tetapi pantang ia turutkan selama targetnya belum ia selesaikan. Milka ingin menebar manfaat bukan sekedar  komisi  atau gaji menggiurkan dari perusahan sekuritas yang menaunginya untuk setiap transaksi saham dan studi kelayakan bisnis yang ia buat tetapi  bagaimana memberikan indivasi secara berkala yang tidak menyesatkan investor dan melabrak aturan guna mendapat komisi setingi – tingginya.  Milka memandangi jagoan kecilnya, dia yang dulu tak bisa tidur tanpa dekapannya telah terbiasa tidur seorang diri, rasa bersalah itu menyeruak masuk mengusir kantuk yang daritadi menyerang.  Alif telah menjadi bocah periang meski tanpa sosok ayah, iya Milka adalah seorang Ibu sekaligus Ayah untuk Alif. Naasnya Milka harus merasakan kehilangan sebelum kehilangan itu benar – benar nyata. 

Pepatah bijak itu selalu benar mengabarkan, bahwa dibalik kisah sukses ada harga perjuangan yang harus ia bayar. Milka yang lugu dan polos itu telah bermetamorfosis menjadi Milka yang cerdas dan pintar membaca peluang. Milka yang dulu menjadi korban ketidaktahuan dan ketidakberdayaan telah menjadi Milka yang selalu diandal – andalkan. Dulu lugu dan polos itu bersatu padu menjadi kebodohan yang membawa Milka pada rumah kedua. Ia dia menjadi korban dari “mantan suaminya” yang membohongi dirinya, mengaku seorang pemuda perjaka padahal telah memiliki rumah pertama. Ah, betapa dia merasakan sekarang berharganya selembar kertas  absah sebagaimana berharganya satu lembar slot saham yang sering ia soroti. 

“Yang utama itu sakral dan sah, resepsi itu point belakangan” Ujarnya dulu begitu Naif.
“Dik, Mas begitu bangga dan tak akan pernah menyesal bersanding denganmu !” Jawaban yang berbalik tajam padanya, iya dia tak mungkin menyesal setelah mendapatkan rumah keduanya, tetapi Milka sesak dengan penyesalan yang tiada berkesudahan. 

 Apa kabar Ktp – El yang masih bisa di gandakan dan memalsukan status asli. Lengkap sudah Milka yang lugu itu terbodohi oleh cinta. Lalu karma kebodohan itu kemudian menghantui Milka, menggedor – gedor istananya sebagai seorang pelakor. Tanpa pernah ia bisa membela diri bahwa dia adalah korban yang sesungguhnya. Ternyata benar, wanita yang selalu menjadi korban yang paling dirugikan.   Sialnya, Alif bocah tak berdosa itu telah menanggung kesedihan sejak mulai ia dilahirkan. Dimata negara ia adalah anak yang tak memiliki ayah. Bukan, Milka bukan wanita pragmatis yang rela menjadi orang ketiga demi harta. Meski pernikahannya dicatatkan dan diakui oleh negara, Milka tak akan menggugat harta gono – gini dari mantan suaminya. Toh setelah ia menyandang status janda, tak seperak harta mantan suaminya yang ia bawa. Istana kedua itu pun ia tinggalkan hanya Alif harta bersamanya yang ia jaga. Iya itulah keinginan terbesarnya bahwa anaknya dimata negara memiliki ayah yang tertulis dalam kartu keluarga. Milka ingat akan celoteh polos Alif ketika pulang dari sekolah.


“Ma, teman – teman Alif nanya, kok di kartu keluarga Alif, gak ada nama papah sih? Oh iya Ma, papa itu siapa ? Alif kok gak pernah ketemu, nengokin Alif dalam mimpi  juga gak pernah “ Celoteh polos dari Alif

Seketika itu matanya berembun, mulitnya terkunci. Sepuluh menit kemudian Milka baru bisa menemukan jawaban, “ Papamu sudah Almarhum, Nak. !” Iya, baginya dia telah almarhum sebelum tertulis di batu nisan.

 #katahatichallenge
#katahatiProduction

Teka - Teki Sayang


Musim sedang tak menentu, hujan bisa bertamu di bulan Mei, panas terik matahari bisa menyinari September.  Anomali cuaca tak bisa terprediksi, ini adalah analogi yang tepat seperti lubuk fikiran Tian akan seorang pria yang sikapnya tak mudah ia  terka.  Buku psikologi itu tergeletak di atas meja, terhitung sudah lima bulan buku itu  ditangannya tetapi belum juga selesai dibaca oleh Tian. Sebuah buku yang merupakan pemberian dari seseorang yang sering menjadi objek untuk di terka perasaannya oleh tian.  Iya, Tian sendiri merasa bosan terjebak menjadi seorang detectif untuk sebuah misi dimana dia sendiri adalah clien-nya. Kini Alarm-nya berbunyi, pertanda panggilan tugas datang. Dan Tian tak pernah seantusias ini sebelumnya dalam menyelesikan projek, hanya satu alasan yang membuatnya semangat 45 dalam bekerja, dia.
“ Ti, ini draft rancangan yang aku buat. Aku minta masukan kamu yah, udah oke atau harus ada revisi?” Tanya Diman.
“Menurutku yah, point tentang usulan pemberdayaan bisnis untuk  napi itu bagus tapi kurang greget, kamu seharusnya menambahakan point studi kelayakan bisnisnya” jawab Tian
“Kamu serius amet sih Ti, kita itu bukan konsultan bisnis lho !” jawab Diman
“Jangan tangung – tanggung dong kalau ngasih jalan orang, jangan seremonial doang nolonginnya,  biar kerjanya berfaedah!”Cetus Tian
“Wah sekarang ucapanmu makin menukik yah,  aku jadi merasa seterdakwa itu dech. Padahal aku cuma memperiapkan diri  agar tidak sakit hati, sedih tahu kitanya mati – matian merjuangin mereka, eh merekanya malah antipati untuk memperjuangkan diri mereka sendiri  !”Timbal Diman
“Jangan pesimis gitu lah, domain kita kan ikhtiar. Masalah hasil kita serahkan aja sama Allah”! Jawab Tian
“Duh partnerku ini daebak bangetlah, udah baik, rajin menabung dan tidak sombong, kalau gitu studi kelayakan bisnisnya kamu yang tambahkan yah !” Ujar Diman
“Pujian anda modus sekali. Kalau niat ngasih perintah, to the point aja !” Jawab Tian.
######






Siang itu, Tian pun membereskan perintah yang datang atas usulnya.  Sesekali kelebat bayang pria itu muncul di layar laptopnya. Fikirannya tak bisa utuh untuk focus mengerjakan tugasnya. Dalam hal itulah, dia seringkali menyelisihi dirinya sendiri. Kenapa dia? Seseorang yang seumuran dengannya hanya terpaut 5 bulan kesenioran dia didunia  tetapi menjadi  junior atau adik  tingkat di kampus Tian dulu. Dan sekarang menjadi satu rekan kerja denganya, dan hal itu jelas menjadi alasan kenapa Tian menyanggah sendiri perasaannya itu, karena memang pria itu  tak masuk dalam daftar kriteria yang seringkali Tian cetuskan. Obrolan dengan Bahasa aku – kamu tadi menandakan kedekatan yang lebih terjalin erat, sebuah hubungan yang menguat seiring seringnya mereka berdebat.  Dan sudah menjadi lumrah, yang  menyaksikan seringnya Tian berdebat dengan sosok pria itu justru mengundang cie – cie efek, seisi kantor sibuk menggosipkan hubungan yang tidak jauh dari tikus dan kucing itu. Tanpa mereka fahami bahwa desas- desus yang mereka layangkan adalah pemantik munculnya riak – riak rasa di hati Tian. Karena sedari mengenal sosok pria itu dikampusnya dahulu, tak pernah ada perasaan sedikit pun. Tian merasa hadirnya perasaan itu seperti asap yang tak mungkin datang tanpa undangan api. Apinya bisa jadi adalah debat – debat yang tak berfaedah itu, pemantik sumbunya adalah rekan – rekan kantor yang sering men-cie-cie-kan mereka berdua. Sesekali Tian acapkali merasa satu frekuensi denganya atas riak perasaan itu, hanya tak pernah ada konfirmasi kebenaran itu dari objeknya yang bersangkutan selain konfirmasi kecocokan menurut rekan -rekan kerja sekantornya.
“ Jadi Gimana?” Kali ini tanya dari Mira, sahabat dari zaman ketika Nokia merajai pasar Handphone sampai Samsung unggul karena Androidnya yang sekaligus rekan kerja Tian dan otomatis sangat hafal tentang kehidupan Tian.
“Tinggal aku revisi sedikit Mir, bentar lagi juga beres !” Jawab Tian
“Maksudku bukan itu, tapi dia?” Tanya Mira
“Dia siapa?” Polos Tian
“Tahu dah yang dianya banyak. Dia yang mana aja dah gue dukung. Mau Diman kek, mau Rudi kek, atau dia  dari pihak ketiga lainnya juga gue  dukung dah !” Cetus Mira
“ Sensor   dikit napa kalau ngomong?” Sergah Tian
“Sory, sory keceplosan hehe”.



 ####

Tian mengerti tentang muara dia yang tadi pertanyakan oleh sahabatnya. Usia Tia kini menginjak 25 bilangan ganjil yang masuk dalam kaidah umum untuk segera di genapkan. Tentang dia yang menjadi pertanyaan Mira tadi adalah hal yang juga dipertanyakan juga olehnya. Kali tadi, Mira yang sempat menyebut sosok pria bernama Rudi. Tian yang hanya mengenali sosok itu sebagai kakak tingkatnya dulu,  tak banyak hal yang ia kenal darinya, karena saat dia menjadi maba, Rudi telah dinyatakan lulus sebagai mahasiswa.
Tian hanya bertegur sapa dengan sosok itu saat projeknya berkerjasama dengan perusahaan dimana Rudi berkerja. Dan dari perantara Mira sahabatnya itu, Tian mendapatkan informasi bahwa Rudi menaruh hati pada Tian dan berkeinginan untuk melangkah ke arah serius  bersamanya. Hanya Rudi meminta komfirmasi perasaan Tian kepada Rudi melalui Mira. Jika gayung tersambut, tak menunggu lama, diminta detik itu juga Rudi akan bergegas mendatangi kediaman Tian.  Sementara Tian, terus mengulur- ngulur, tanpa memberi aba- aba mengiyakan atau menolak. Tian berlindung dibalik kata, lelaki harus siap dengan segala koensekuensi. Jangan hanya melangkah karena searah, jika benar miliki niat dan kesungguhan, buktikan. Mira acapkali mempertanyakan, adakah itu alibi karena bisajadi kecendrungan Tian lebih dominan kepada Diman atau Tian memang benar – benar mengingikan bukti kesungguhan? Sedang sementara jikapun Rudi memperlihatkan kesungguhan, Tian belum tentu akan memberikan kepastian akan menerimanya, belum tentu Tian mau dan nyaman dengan perlakuan yang itu adalah bukti Rudi ingin serius dengannya. Karena Mira hafal watak Tian, yang cendrung anti relationship dan nyaris tak pernah menjalin hubungan yang namanya pacaran. Dan Tian pun kini dihadapkan dengan orang - orang yang serupa pula dengannya. Baik Rudi ataupun Diman tak punya record sebagai lelaki yang pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tiba – tiba dering handphone Tian berbunyi, kali ini dari Rudi. Obrolan pun mengudara.
“Assalamu’alaikum Tian, apa kabar?”
“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah baik kak, ada apa yah kak?” Timpal balik yang disesali oleh Tian, pertanyaan ada apa seperti mengindikasikan bahwa seseorang itu bisa berkomunikasi jika memiliki keperluan.
“Hmm, jadi gini, hhmmmm… Kakak kan punya adek ini, kamu bisa ngasih privat gak buat dia?”
“Privat apa kak, duh Tian gak Expert kalau ngasih privat gituan!” Rendah tian
“Privat Akuntansi, atau mapel lainnya. Kakak percaya lah sama kamu Ti, secara lulusan comloude !
“Eh seriusan kak, Tian gak Expert apalagi ditambah mapel lain. Kenapa engga di masuk-in ke Lembaga privat aja, lagian kata siapa aku comloude, hoak itu !” sergah Tian.
“Hmmm…jadi hmmm  …Anaknya gak mau kalau masuk Lembaga privat, Terus kamu itu emang dulunya comlude, kakak tahu itu “



“Kenapa gak mau masuk Lembaga privat kak? Eh itu siapa sih yang nyebarin berita hoak?”
“Adenya, hmmm belum nemu Lembaga privat yang cocok…Suara lain muncul mengudara dan terdengar oleh Tian “ Kata siapa?”Suara anak perempuan yang diprediksikan Tian adik  Rudi. Kemudian, sedetik kemudian Rudi pun melanjutkan, “ Jadi gimana Ti, kamu gak bisa aja nih?” setelah jawaban sama keluar, sambungan telepon pun berhenti.
#####
Seperti kebiasaannya yang sudah mafhum, makan siang ini Tian habiskan dengan bercerita tentang telepon Rudi untuk permintaan privat itu kepada sahabat karibnya, siapa lagi kalau bukan Mira. Tak peduli makanan yang dipesan telah habis,pun  tak peduli dengan jam istirahat kantor siang yang telah berakhir, ada keleluasan tempat dimana mereka bekerja, jika proyek selesai ritme kerja pun bisa senggang. Menjadikan Tian pun asyik bercengkrama Bersama Mira dan tak bergegas dari café tempat hangout mereka. Beberapa kali Mira meyakinkan bahkwa tindakan Rudi bukan semata sedang mencari guru les privat melainkan bentuk usaha pendekatan kepadanya, dan itu adalah satu hal yang pernah diminta olehnya, tentang usaha bahkan sebelum kunci jawaban iya atau tidak didapatkan. Meski benar pula, yang di sangsikan oleh Mira. Tipikal Tian tidak akan nyaman didekati by design seperti permintaan privat yang ketahuan “di-ada-adakan” itu.
“Jadi sekarang keputusanmu gimana, mau menunggu kepastian dari dia atau memberi kepastian kepada dia  apapun jawabannya?” Tanya Mira
“Entahlah, Mir    !” Desah Tian
“Aku tahu kamu sepertinya menunggu kepastian dia, yekan? Baiklah, aku sepertinya harus turun tangan membantumu  ”Ucap Mira
Wajah kebingungan Tian makin nampak, Tian memberikan kode untuk tidak melakukan hal aneh  pun tidak digubris oleh Mira, dia beranjak meninggalkan kursinya sembari berkata “ Tenang, namamu aman . aku jamin, Bye   !”

^^^^




Tanpa basa - basi dan pengantar apapun, Mira membuka obrolan kepada Diman tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Di, punya niat gak sih sama Tian?”
“Niat apa? Niat mensukseskan setiap proyek, punyalah !” jawab Diman dengan polosnya.
“Jangan so naiflah, seriusan gue nanya punya niat serius gak sama Tian, gue sebagai sahabatnya ngedukung kalau loe beneran jadi sama dia. Tapi, kalau loe emang gak punya niat sama doi, gue mau  jadi timses untuk orang lain. Asal lo tahu, ada orang lain dan clue-nya dia baik punya niat serius sama Tian. Kalau lo gak mau kesalip atau jadi tamu undangan, mening buruan beraksi kecuali emang lo samasekali gak punya niat ke arah itu !”. 
“Banyak hal yang harus aku persiapkan dan pertimbangkan , menikah gak semudah itu Esmeralda !”
“Nunggu siap itu kapan siap nya Ferguso, pertimbangan apa? Atau jangan – jangan memang lo gak punya niat yah sama Tian ?”
“Aku masih harus selesai dengan diriku sendiri dan juga memastikan atas perasaanku sendiri, Mir !”
“Fiks, lo jangan nyesel yah kalau jadi tamu undangan !”
####
Tian berulang kali membaca  WA yang ia terima dari Rudi, dari pesan yang diterimanya. Rudi mengakui bahwa permintaan guru privat itu hanya alasan klise untuk sebuah pendekatan, agar tak mengulangi rasa pecundang itu pada akhirnya desas – desus bahwa Rudi menaruh hati padanya dikonfirmasi langsung oleh Rudi.  Dia menyatakan bahwa dia  memang menyukainya dan bukan sekedar suka melainkan berniat untuk meminangnya. Tian tak perlu menjawab pesan WhatsAppnya, apapun jawabannya akan siap ia terima secara langsung saat Rudi mengunjungi rumahnya tiga hari setelah pesan WA ini diterima olehnya.
Kali ini komfirmasi itu datang, bukan lagi desas – desus yang saling berseliweran itu. Meski bukan Diman, tapi entah mengapa untuk pertama kalinya  Tian merasa tersanjung dan bahagia atas pernyataan Rudi. Atas rasa yang ia definisikan terhadap Diman, atas rasa haru dari kejujuran Rudi, Tian muarakan peraduannya pada Rabb- nya.
Entah mendapat angin darimana Tian tergerak untuk menyelesaikan buku psikologis, pemberian Diman itu. Bukan, bukan karena Tian terasuki kembali oleh bayangan Diman. Kali ini murni karena Tian ingin mencari konten psikologi dari buku tersebut. Lambat laun Tian pun membuka lembar demi lembar buku tersebut. Saat sampai di sub bab tentang ilusi rasa, Tian begitu menikmati dan meresapi isi dari buku tersebut, buku yang membawanya berani untuk menyimpulkan bahwa rasa yang ia terjemahkan pada Diman, bisa jadi hanya sekedar ilusi. Ada, karena ditumbuhkan dan tak ada rasa yang datang dengan sendirinya, ia merupakan rangkaian keputusan dari insan yang mengelola rasa itu sendiri. Jika demikian, Tian pun besar sangat mungkin bisa membuat keputusan untuk mencintai Rudi. Setidaknya Tian memiliki alasan untuk memutuskan mencintai Rudi dengan kejujuran dan keberaniannya.  Dengan hari mendekati kedatangan rudi, kemantapan hati itu semakin terkuatkan. Sampai pada moment ayah Tian menyerahkan jawaban sepenuhnya kepadanya, anggukan kepala sebagai penerimaan pun didapatkan oleh Rudi, satu hal diluar estimasinya. Padahal yang terbayangkan oleh Rudi adalah penolakan, sempat terfikir untuk membatalkan kedatangannya, hanya dia berpegangan pada ucapannya sendiri. Seorang pria adalah ia yang memegang kata – katanya.
Kabar itu pun sampai pada Mira, sahabatnya. Mira langsung mengkomfirmasi kabar itu dengan mendatangi Tian, seperti depkoletor yang menagih seseorang untuk bercerita terus terang sebagai pembayaran hutang. Setelah Mira mendapatkan yang ia mau, kali ini giliran Mira menyampaikan hal yang kLunch dari pertemuan secara langsung itu. Dan ternyata ada kelanjutan komfirmasi yang Diman berikan kepadanya melalui WhatsApp, niat keseriusan itu memang belum ada, pertama karena dia merasa belum siap untuk melangkah serius ke jenjang pernikahan dan yang kedua prihal rasa, bahwa bukan Tian yang ada dalam hatinya melainkan dirinya sendiri. Iya, ternyata Diman menyukai Mira. Dari penuturannya Diman memang sempat merasa menyukai Tian, tapi ragu atas perasaannya sendiri karena bisa jadi terbawa suasana dengan seringnya rekan kerja mereka yang men-cie-cie-kan.

Kemarin berusaha ditutupinya dengan perjanjian awal bahwa apapun yang ia sampaikan tak boleh menggangu keputusan Tian ataupun berbalik memusuhi entah Diman ataupun dirinya. Ia menceritakan prihal saat dirinya meminta komfirmasi perasaan Diman untuk Tian. Mira mereka ulang pertanyaan dan jawaban pasca
“Ti, jangan kecewa yah dengan apa yang aku sampaikan, semoga kamu selalu berbahagia selalu dan tidak membenciku!”
“Selow sis selow, never mind. Aku sekarang bahagia dengan keputusanku.  Mana bisa sih aku membencimu. Justru jika kau pun menyimpan rasa yang sama, jangan ragu untuk meyakinkannya biar kita nikahnya barengan wkwkwkw “ Canda Tian menggoda Mira
“Pernah kefikiran punya rasa sama si Diman juga gak pernah, kaget sendiri dengar dia punya rasa, mungkin kejedor kali kepalanya sampai bisa korslet begitu wkwkwk !”
“Jangan gitu Mir, aku juga gitu tadinya. Tapi sekarang entah punya keyakinan darimana kalau kita berrdua saling mencintai wkwkwk !”Timbal Tian.
Teka – teki sayang itu akhirnya terpecahkan. Bahwa rasa menyanyangi, rasa mencintai adalah rangkaian dari keputusan untuk menyanyangi. Iya, karena cinta adalah keputusan.
Satu Putri, dua Raja

Satu Putri, dua Raja


Aku adalah putri, seorang wanita biasa, bukan putri dari negri dongeng bahkan putri dari Hutama. Banyak hal yang tak aku sukai menjadi bagian dari Keluarga Hutama, adalah hal yang ku benci, pencitraan aku sebagai seorang putri yang harus  diperlakukan emas dan harus mendapatkan perhatian ekstra . Aku hanya ingin menjadi putri, seorang wanita biasa, bersahabat dengan siapapun dan apapun, bisa menikmati rinai hujan dengan bebasnya, mengendarai kuda bermesian roda dua, menikmati semilir angin malam dalam nuansa alam yang bersahabat, menaiki bukit terjal dan menjejakkan kaki di puncak gunung, melakukan apa yang aku sukai bukan melakukan apa yang menurutnya “aman”.

“Pah, aku mau ikut club volley yah disekolah?”Tanyaku
“Jangan Put, nanti kamu kecapaian olahraga berat seperti itu, mending kamu ikut les musik atau memasak saja?” jawab Sang komandon.

Sudah kuduga, jawaban seperti itu yang akan diberikan olehnya, entahlah kenapa background milter yang begitu kuat melekat pada ayahku tak lantas menjadikannya mendidikku secara “keras” tapi justru sebaliknya seringnya aku mendapati larangan-larangan semisal itu. Mungkin iya keras, keras dalam hal pelarangan  yang  justru menurutku lebih mirip sebagai pengukungan.

Dari semenjak aku kecil hingga saat ini, entah berapa banyak inginku  yang  terlewatkan , jika benar aku seorang putri seperti sangkaan mereka, kenapa terlalu banyak hal yang kuinginkan  tak bisa ku raih? aku yang tak bisa bermain lumpur-lumpuran,bermain hujan-hujanan,bermain riang di tengah terik matahari dan permainan lainnya.Setiap kali ku dekati teman-temanku, mereka menolaku dengan dalih takut mendapat marah jika aku dilibatkan dalam permainan mereka dari baby sisterku yang super  ketat menjagaku. Begitu pun masa remajaku. pernah ketika aku ingin ikut camping yang merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh semua siswa, pembina pramuka pun bisa memaklumi dengan mudahnya saat Ayahku langsung yang meminta ijin agar aku bisa untuk tidak mengikuti kegiatan Camping. Jika benar aku adalah putri, adakah putri yang terkurung dalam istananya sendiri?

Putri dari negri dongeng selalu menceritakan keindahannya, sang tokoh laksana seorang putri yang nyaris sempurna tanpa celah dan aku bukanlah putri dari negri dongeng tersebut. Tapi entah karena alasan apa, opini publik mencitrakanku bak seorang putri. Kadang ku dengar  bisikian yang menurutku berlebihan. Putri kamu itu beruntung keluarga yang harmonis dan menyayangimu, perhatian, kehidupan yang mapan, dan seabreg lainnya yang mereka sebut sebagai keberuntungan.





Tanpa mereka tahu bahwa aku disini tak bisa menikmati bebas setiap inginku. Bahkan aku pun bukan putri Hutama si anak tunggal yang penuh dengan keberuntungan itu. Dan sebelum aku tahu kenyataan yang sesungguhnya itu,  sudah sempat terbesit untuk keluar dari singgasana itu, untuk mencari sebuah angin kebebasan tapi ketika justru alasan telah aku temukan untuk meninggalkan istana itu dan menjemput Raja yang sesungguhnya, semuanya menjadi terasa berat. Teramat berat.

Ada rahasia besar di balik jati diriku yang baru saja ku ketahui, dan sangat ingin ku katakan tentang siapa Putri yang sesungguhnya. Tentang putri yang sesungguhnya tak seberuntung yang mereka kira,  Dulu aku masih samar melihat  arti sebuah ketulusan seorang kawan, karena ada nama Hutama dipundakku betapa banyak rangkulan yang ku dapatkan, namun jika kelak nama itu ku tinggalkan, masihkah mereka merangkulku? Aku sama sekali tak takut untuk kehilangan perhatian dan perlakuan emas mereka karena justru itulah yang aku harapkan agar ku bisa merasakan indahnya ketulusan yang sebenarnya dan tak terjebak pada keasingan dunia. Hutama yang selama ini ku panggil “papa”. Iya, aku bukanlah anak kadung darinya melainkan keponakan dari  Neysea, seseorang yang juga selalu ku panggil dengan sebutan “mama”. Iya aku adalah anak dari kakak kandungnya, “Mama Neysea” adalah adik dari ibuku yang telah meninggal. Dia menggantikan posisi kakaknya dengan sangat sempurna sesuai dengan amanah ibuku kepadanya.

Dia rela berbohong kepada Hutama demi aku, Neysea   berbohong padanya bahwa sebelum menikah dengan hutama, dia telah menikah dan akulah buah hatinya itu.Tak ada pilihan lain baginya selain berbohong, karena jika Hutama tahu bahwa aku adalah anak dari Hendra yang tak lain adalah Ayahku, Neysea khawatir dia menolak kehadiran putri dan mengabaikannya. Karena sepeninggal ibuku, ayahku menjadi rivalnya dalam mempersunting Neysea tapi karena nenek dan kakekku kecewa kepada ayahku yang lalai dalam menjaga ibuku. Ayahku disebut sebagai dalang kematian Ibuku, dia  yang menyebabkan ibuku jatuh saat hamil besar dan melahirkanku bukan pada waktunya dan juga membuatnya pergi untuk selamanya. Maka nenek-kakekku pun memilih Hutama sebagai pendamping Neysea. Tentu ayahku pun sedih, bukan karena  tak bisa mempersunting Neysea, yang menyakitkannya adalah  ia tak di izinkan untuk merawat anaknya sendiri oleh orangtua Neysea dan hal inilah yang membuatnya pergi ke luar kota untuk menumpahkah dan menghapus segala kesedihannya.

Selidik demi selidik Neysea pun tahu bahwa ayahku berkali-kali mencari informasi keberadaanku lewat nenek-kakekku, tapi mereka tak memberikan informasi yang di cari ayahku itu dengan alasan takut mengganggu rumah tangga Hutama. Ayah ku pun menjanjikan untuk tak menganggu rumah tangga Hutama tapi tetap saja nenek kakekku tak luluh-luluh juga maka ayahku pun meninggalkan jejak dan berharap aku bisa menemuinya.




Dan diam-diam aku pun menemuinya,tentu hanya Mama Neysea yang mengetahui kenekatanku karena dialah sumber informasi untuk aku bisa bertemu dengan rajaku yang sesungguhnya. Mama Neysea sangat memahami, bagaimana pun sejarah itu tak dapat dihapus dan aku memang harus mengetahui siapa raja yang sebenarnya. Saat ku menemuinya, berkali-kali airmata ini berderai.

Pertemuan yang sungguh mengharukan .Aduhai rabbi wajahnya itu menyiratkan kerinduan yang sangat. Aku ingin terus bersamanya, begitupun rajaaku, dia sangat mengharapkan keberadaanku di sampingnya.Tapi bagaimana dengan papa dan mamaku? Bukankah dia juga raja dan ratu diistanaku? Aku tak mungkin melupakannya. Iya, aku baru tersadar sekarang, bagaimana pun Papa Hutama begitu menyangiku, semua larangan itu adalah demi kebaikanku. Karena nyatanya aku adalah seorang pesakitan yang sangat tidak boleh kecapaian. Dan ini pun baru aku ketahui, itu semua adalah efek dari benturan keras saat ibuku hamil dulu, terkait apa nama penyakitku, lidahku terlalu sukar melafalkan istilah medisnya, aku tak berniat sama sekali untuk menghafal jenis penyakit itu, entahlah aku masih ingin merasa diriku seorang yang sehat, sejak dari dulu aku tak ingin berkawan dengan rumah sakit, tempat yang selalu justru mensuggesti orang sebagai orang sakit.

Mungkin Mama Neysea akan memakluminya tapi Papa? dia yang masih belum tahu bahwa aku bukanlah anak kandung dari Mama Neysea melainkan anak dari rivalnya dulu, Dia yang tak tahu bahwa aku pun telah menemui rajaku.. Aku dibuat bingung dengan semuanya.  Tapi  hati membisikan bahwa aku harus berterus terang akan semuanya. Bukankah kejujuran yang pahit lebih baik dari kebohongan yang indah? aku pun putuskan untuk jujur padanya jujur bahwa aku telah menemukan istana yang lain.. Jujur bahwa aku adalah anak dari rivalnya. Jujur bahwa aku ingin tinggal di istana baruku dan jujur bahwa aku pun akan tetap menyayanginya.Tapi setelah kejujuran itu, ia terdiam membisu.Tak ada respon bahkan saat rajaku bersuara untuk meminta maaf,  jika dengan kehadirannya telah menjadikan suasana tak nyaman, dan ia pun masih membisu.

Aku masih di istana lamaku, tapi suasana hening masih tetap berlangsung, papaku menjadi seorang pendiam bahkan ia pun sangat jarang bertegur sapa denganku ataupun Mama Neysea dan aku  tak bisa meninggalkan istanaku ini dalam keadaan seperti ini.Sampai sutu massa ku coba kembali untuk bicara dari hati ke hati. Saat ku tanya apakah ia marah akan kebohonganku dan Mama Neysea? Papa pun menggelengkan kepala. Lantas aku pun bertanya kembali, akan prihal yang membuatnya berubah seperti ini? Kembali hening tak ada jawaban. Setelah lama membisu, aku pun kembali bersuara

“Pah  jika papa marah padaku, katakanlah? tapi Putri mohon Papa jangan diamkan kami seperti ini, terlebih mama, Putri harap  Papa tak membencinya?”tanyaku yang berasumsi bahwa Papaku kecewa kepada Mama Neysea. Dan kali ini ia pun bersuara
“Putri, papa sama sekali tak membenci Mamamu ataupun marah kepadamu, Sekalipun papa sempat merasa kecewa”jawabnya

“Lalu kenapa papa diamkan kami seperti ini, apa papa takut ayahku mengambil mama. Itu tak akan Pah, karena yang ayah harapkan hanya kehadiran Putri” Sahutku.
“Bukan Mamamu yang Papa khawatirkan tapi kamu putri, kamu yang papa khawatirkan”jawabnya yang membuat air mataku berderai.

Sungguh aku merasa menjadi seorang putri yang sesungguhnya, sekarang cukup dengan kasih sayang keluargaku aku sudah merasakan indahnya istana itu. Bahkan aku memiliki dua istana sekaligus. Dalam keharuan itu ku katakana padanya dengan atau tanpa aku tinggal di sini aku akan tetap menyanyanginya.

Semua menjadi berat saat ku melepas nama marga yang dulu sempat ingin ku lepas. Aku pun menyesali sikapku yang pernah salah menafsirkan kasih sayangnya yang ku anggap sebagai pengukungan diri. Kini saatnya ku jalankan tugas baruku untuk berbakti kepada rajaku yang sesungguhnya tanpa menghilangkan bakhtiku kepada Papaku.
Muhajid Cilik Perindu Surga

Muhajid Cilik Perindu Surga


            Palestina Kembali berduka, sesaat setelah derasnya hujan bom, hujan tangis pun membahana iringi kepergian para syuhada. Desing peluru,deru tank baja,gelegar bom dan granat menjadi hal yang tak aneh. Genangan darah yang bersimbah,mayat-mayat yang berserakan,rumah-rumah yang di ratakan,semua menjadi pemandangan biasa yang belum cukup untuk membangunkan dunia dalam kebisuannya. Dimanakah HAM??? negara sang kuasa wacana itu malah tak bergeming, bukankah ia yang paling keras mendengung-dengungkan HAM, tapi kenapa ia tutup mata, tutup telinga mendengar penderitaan rakyat Palestina.Ah sudahlah… berharap pada mereka hanyalah sebuah ke-percuma-an dan rakyat Palestina tak perlu menggantungkan harapannya pada mereka. Cukuplah Allah sebagai penolong. Itulah yang di hayati oleh Alif, di usianya yang menginjak 5 tahun, ia telah kehilangan seluruh anggota keluarganya, setelah sebelumnya orang tuannya gugur menjadi syuhada, kali ini keenam kakaknya menyusul mereka kembali kepadaNya.Tapi Alif tak kehilangan semuanya. Iman dan semangat itu selalu terpatri teguh di hatinya. Itulah kekayaan yang berharga yang selalu ia pertahankan sampai titik darah penghabisan.
            Tanpa sapu tangan, ia usap airmatanya ,ia larang air matanya untuk kembali jatuh menetes menangisi kepergian seluruh anggota keluarganya, karena ia tahu surga telah menanti kedatangan mereka. Selepas bermunajat padaNya,t iba-tiba luka itu kembali ia rasakan, Alif pun meringis kesakitan, peluru itu mengenai kakinya dan ia pun membalut lukanya sendiri seadanya. Dalam keadaan yang demekian, tiba-tiba seseorang mendekatinya .Alif yang sama sekali tak mengenalinya menjadi waswas terlebih orang yang mendekatinya berparas kebarat-baratan tanpa atribut relawan sebagai tanda pengenal yang tak sempat ia kenakan kembali.
            “Nak, kau baik-baik saja?”Tanya seseorang itu
            “Siapa??Ya.. hu..d..Yaa..huu… dd?pen ja haaa t itu?”jawab Alif terbata-bata
            “Bukan..Apakah wajahku seperti penjahat itu? aku saudaramu nak,jangan takut!”jawabnya meyakinkan
            “Benarkah??Saudaraku telah meninggal.Semua kakakku, ayah-ibuku,penjahat itu..Tank-tank itu..Peluru-peluru itu..Aku benci penjahat itu..!”Pilu Alif
            “Aku saudaramu Nak, kenalkan namaku Ale. Aku relawan dari Turki, aku ingin mengobati lukamu juga saudara-saudaraku yang lainnya. Namamu siapa?”
            “Senang berkenalan denganmu tuan, namaku Alif”
Sang Relawan pun mengobati luka Alif, ia balut lukanya dengan p3k di tas kecilnya, ia pandangi wajah sendu itu.Wajah yang seharusnya ceria menikmati masa kanaknya.Tidak seperti Alif dan anak-anak lainnya di tepian Gaza ini.Tak ada permainan layaknya anak seusia mereka.Jika di belahan dunia lainnya  senapan dan bebatuan bagi mereka  adalah alat untuk meramaikan permainan perang-perangan, tapi tidak bagi Alif. Senapan dan bebatuan itu adalah senjata yang sebenarnya untuk melawan musuh-musuh dalam peperangan yang tiada henti, meski Alif tahu bahwa senjata yang ia miliki tak ada apa-apanya dibandingkan amunisi yang dimiliki sang lawan.Tank Markava,peluru-peluru, Rudal, Pesawat F-35nya dan senjata canggih lainnya, semua itu tak membuatnya gentar. Jika  di belahan dunia lainnya anak-anak bersenandung lagu dalam keceriannya tapi disini Alif dan yang lainnya bersenandung takbir sebagai pembakar semangat melawan musuh-musuh Allah.
            “Sekarang kau di sini sendiri??apakah kau mau ikut bersamaku tinggal di Turki?”tawarnya membuka lagi percakapan
            “Tidak tuan..Terimakasih..Aku ingin tetap di sini.Dan aku tidak sendiri. Inallaha ma’ana!”jawab Alif.
            “Kau tidak takut dengan penjahat itu? kenapa kau ingin tetap disini, bukankah penjahat itu selalu menjahatimu?”
            “Ibuku pernah bercerita bahwa aku diberinya nama Alif agar aku seperti huruf hijaiyah yang berada di depan,begitupun dengan keadaanku sekarang aku ingin tetap menjadi yang terdepan seperti pesan Ibuku, sekalipun aku akan meninggal. Tak mengapa selagi syuhada yang kidapat”.
            Sang relawan pun terdeiam, dalam benaknya ia berdecak kagum kepada bocah yang ada dihadapannya. Kedewasaannya melampaui usiannya bahkan mengalahkan kedewasaannya. Ia seolah telah memberi  tawaran yang salah, kehidupan yang nyaman tak akan menggiurkan niatnya untuk menjadi mujahid cilik yang mendambakan surga sebagai tempat berkumpulnya kembali dengan keluarganya. Bukankah teramat jarang kita mendengar pengungsi Palestina di luar tanah mereka yang selalu terus mereka perjuangkan? Bukan karena tak ada pilihan untuk mengungsi ke negara lain, tapi pilihan sahid lebih menggiurkan untuk mereka. Alif pun membuka percakapan kembali sekaligus meminta izin untuk pamit meninggalkan tempat percakapan, saat sang relawan itu  bertanya hendak pergi kemana dengan percaya diri Alif menjawab ia ingin menghatamkan hapalannya meski lukanya belum sembuh total.
Ketika Alif dan puluhan mujahid cilik lainnya sedang asyik-asyiknya melantunkan hafalannya, tiba-tiba tank-tank itu datang mengusik ketenangan mereka dalam menyenandungkan kalamNya.
            “Istaidu..Istaidu..Lil  jihad…Allahuakbar!!!”laksana seorang komandan memberikan instruksi. Alif serta puluhan mujahid lainnya menyambut seruan itu dengan takbir yang menggebu-gebu, tak ada siratan takut sedikit pun meski mereka tahu selangkah mereka maju,pintu kematian akan semakin mendekat.,
…Dorrrrrrr……….dorrrrrrrrrrrrrrrr!!desing peluru yang membahana,tak lantas mendengar ancaman itu menjadikan Alif mundur kebelakang. Dengan senapan dan bebatuan di tangannya, ia tetap maju di garda terdepan seperti makna namanya yang telah ia ungkapkan. Dengan lantunan takbir ia lemparkan senapan dan bebatuan itu ke arah tank-tank itu. Dalam suasana genting itu Alif  tak gentar untuk tetap berjuang bahkan sampai ketika peluru tepat mengenai  jantungnya, kalimah sahadatain pun di ucapakannya dan mengantarkannya ke surga, Alif sang mujahid cilik itu telah sahid.
          
Mengukir Pelangi Pada Sebungkus Dodol

Mengukir Pelangi Pada Sebungkus Dodol



Akhir  bulan yang biasanya membuat setiap penghuni gigit jari dan mengurung diri di kos-kosannya karena terkena penyakit penyempitan pembuluh dompet akibat suplai amunisi yang kian menipis.Tapi tidak untuk kali ini karena penghujung bulan ini  telah menjanjikan binar-binar mata yang akan memancarkan kecerian juga bibir-bibir yang akan membentuk senyuman.Tak lain itu karena menjelang libur panjang semester yang di nanti-nantikan oleh seluruh mahasiswa  terutama mereka yang merantau.Tradisi pulkam pun di sambut dengan sukacita.M aka tak aneh wajah murung di setiap akhir bulan telah tergantikan dengan wajah penuh antusias menyambut holiday yang di nantikan. Permintaan akan pesanan makanan khas setiap daerah pun meningkat. Begitu pun aku dan kawan-kawan seperjuangan yang tak melewatkan begitu saja moment liburan ini. Aku yang di wanti-wanti harus pulang kembali dengan membawa kurupuk kulit+kakaren lebaran tapi syukurlah aku tidak di minta untuk membawa domba Garut yang pasti tak bisa aku penuhi, Icha kawanku yang asli Cianjur di tugaskan membawa Taucho dan Meli pun mendapatkan tugas yang sama harus membawa Apel Malangnya.
Aku pun menikmati rutinitas yang lebih menghidupkan hari-hariku di kampung halaman  tercinta. Disini Garut mengisnpirasiku, Aku mulai menata hidupku, menyusun puzzle tentang cita-cita itu. Optimisme itu hadir bahwa tak ada mimpi yang teralu besar tapi langkah kitalah yang kecil. Maka eksperimen pun kembali di mulai setelah sempat terbengkalai dan mulai menemukan serpihan asa itu.
 Di sela-sela liburan ini selain misi cita-citaku, aku di sibukkan juga dengan persiapan keluargaku menjadi tuan rumah acara Halal Bi Halal,sebuah acara reuni keluarga yang memang menjadi rutinitas.Apalagi untuk kali ini keluargaku yang menjadi tuan rumah,setelah tahun kemarin reuni itu di adakan di kota hujan dengan paket holiday di kebun raya kota bogor.Maka aku pun sibuk membuat list objek wisata untuk holiday keluargaku.Sebenarnya untuk tahun ini yang menjadi tuan rumah adalah giliran Tanteku yang tinggal di Bandung,namun karena hasil vote memutuskan yang menjadi tuan rumah adalah keluargaku dengan alasan ingin merasakan keindahan kota intan.
            Garut Kota intan,tentu seperti  julukannya intan yang menggambarkan sejuta keindahan di dalamnya,namun sayangnya keindahan intan tersebut belum terkuak sepenuhnya masih banyak orang yang tak mengetahuinya,aku jadi teringat kisah lucu adikku defia yang sekarang duduk di kelas V di marahi oleh Gurunya saat pelajaran geografi karena tak bisa menunjukan kota Garut,sekecil itukah kota Garut hingga tak terlihat di peta dunia dan tak nampak   di pelupuk mata.Tapi tak apa,bukankah intan,berlian dan permata lainnya berukuran kecil?biarpun kecil tapi ia sangat berharga. Ada juga kisah Saat awal-awal kuliah yang memang bertemu banyak orang perantau.ketika Meli yang asli anak Malang bertanya padaku”Dil,Garut itu di sebelah mananya Bandung yah?”tanda-tanda asing yang seperti ini pun aku dapati dari teman-temanku lainnya  yang masih asing akan kota kelahiranku,aku pun memakluminya karena kadang aku pun di posisi yang sama,asing akan kota-kota sebrang asal teman-temanku.Inilah serunya bisa berbagi dengan saudara-saudara kita yang berbeda daerah,bisa mengenal berbagai bahasa,berbagai kebudayaan dan cerita-cerita uniknya,inilah indahnya nusantaraku penuh dengan keragaman yang mempesona.Kadang obrolan bersama teman-temanku pun menjadi ajang promosi daerah asalnya,Meli yang mempromosikan apelnya,Yanti anak Palembang mempromosikan empe-empenya,tak ketinggalan icha mempromosikan tauchonya juga Rima mempromosikan udangnya dan promosi-promosi daerah lainnya.
            Kembali ke persiapan keluargaku mempersiapkan reuni,dari beberapa list yang ku buat,ada beberapa pilihan pertama objek wisata darajat yang memiliki keindahan panorama alam yang indah dan di sana ada kawah yang memperindah pemandangan.Alternatif lainnya ada pantai Santolo yang berlokasi di daerah  Garut Selatan,Situ Bagendit dengan cerita asal-muasalnya yang menarik juga tempat pemandian cipanas yang airnya mengalir langsung dari pegunungan yang juga memperpanjang list,namun vote pun memutuskan untuk berlibur ke Darajat pass.Aku yang pernah kesini sebelumnya tak merasa bosan,apalagi dengan kebersamaan yang memperindah pemandangan di sini.Arif yang tak lain sepupuku tak henti-hentinya mengabadikan pemandangan di sini dengan kameranya.
            “Untuk bahan upload di FB yah?”tanyaku
            “kalo iya kenapa,masalah buat loe?”jawabnya dengan sinis
            “Pasti bunyi update statusnya gini,pemandangannya cantik,secantik sepupuku”ledekku
            “hah?ujungnya berbau fitnah tuh”jawab Arif
            “kali-kali update yang nyenengin aku,gak rugi ini kan?”pintaku
            “Dengan ngeupload fhoto-fhoto di sini itu kan berarti aku ngepromosiin kotamu,yah ikut senang dong kalau ada yang ngepromosiin kotamu”jawabnya menutup obrolan dan meninggalakanku.
            Setelah menikmati liburan yang mengasyikan itu,keluarga Tante dan Pamanku pun bersiap-siap untuk kembali ke kampung halaman.Arif anaknya pamanku yang keresan tinggal di Garut pun meminta perpanjangan waktu agar bisa mengitari pelosok kota Garut lainnya.
            “kerasan yah tinggal di sini,udah pindah warga daerah saja”celotehku
            “usul yang bagus,kalau bisa sekolah di sini seru tuh kayanya?”jawab Arif
            “ciyus?mau sekolah di sini?”ledekku
            “Enelan…Sumpah”balas Arif meledekku.
           
Tetap saja akhirnya Arif pun tak bisa berlama-lama karaena jadwal liburnya di batas deadline,dan sebelum mereka pulang,Tante dan Pamanku memborong produk baruku yang masih dalam tahap launching untuk di jadikan buah tangan selain makanan khas lainnya seperti kurupuk kuli yang gurih dan renyah..Iya diam-diam aku mengamalkan ilmu yang ku dapat di bangku kuliah juga untuk mengasah skil ku dalam berwirausaha.Inilah alasanku bangga akan kota kelahiranku,bukan karena lahir dan di besarkan di sini tapi karena Garut telah menginspirasiku dan mejadi kebanggaanku.
Garut menginspirasiku dari makanan khasnya yaitu dodol,makanan yang dari kecil tak aku sukai dan merupakan mata pencahararian keluargaku.Dari ketidaksukaan itulah aku mencari varian baru dari produk dodol agar bisa menumbuhkan rasa sukaku akan produk dodol,karena hobiku permen maka terbesitlah ide untuk membuat permen dodol,awalnya terasa aneh tapi produk itu pun akhirnya tercipta juga,permen dodol yang menyerupai permen jelly.Tentu awal mula pembuatannya memerlukan proses,tidak seperti trick sulap yang sekali mengucap mantra abakadabra langsung jadi.Exsperimen pun di lakukan berkali-kali,Ibuku yang menjadi dewan juri masih saja memberikan komentarnya,dari komposisi yang kurang,kurang manislah,tekstur yang terlalu lembek dan komentar-komentar lainnya sebelum akhirnya aku bisa bernafas lega karena bisa lulus seleksi dari audisi pembuatan pedol alias permen dodol.
Tahap Selanjutnya adalah proses pecking,dalam proses pecking aku membagi menjadi dua kemasan,kemasan besar dengan isi 30 pedol dan kemasan kecil dengan isi 10 pedol,karena terinpirasi dari kota lahirku,maka ku memasukan unsur Garut dalam kemasan pedolku.Seperti gambar babancong yang tak lain symbol dari macapat kabupaten Garut,Domba Garut,dan tentunya dodol yang memang masih kembaran dengan pedolku.Step by step aku melangkah mengembangkan usaha dan mencoba berpijak dengan kaki sendiri setelah sekian lamanya bergantung kepada kedua orang tuaku.Tentu keluargaku mendungku dan sangat berperan besar dalam rintisan usahaku ini.Merekalah tutor bisnisku dan darinya aku mendapatkan peluang untuk mempraktekan teori ATM(amati,tiru,Modifikasi) dan lebih dari itu,bagiku mereka adalah modal terbesarku.
Di penghujung masa liburku,ada moment yang tak akan ku lupakan,yakni saat aku yang coba-coba ikut di ajang penghargaan UMKM AWARDS dan di luar dugaan aku yang niat awal hanya ingin mempromosikan produk bisa membawa pulang piala penghargaan untuk katagori pengusaha pemula.Moment di saat penerimaan piala itu adalah moment yang akan selalu terkenang,kebahagian saat itu sungguh tak bisa terlukiskan.
Kebahagiaan pun tak sampai di sana,semenjak penghargaan itu,tawaran mengisi seminar entrepreneur pun berdatangan dan aku pun menikmati anugrahNya yang bisa membuatku menjelajahi berbagai daerah dan mempromosikan kota intanku.Mengenalkan kota intan dan bisa mengenal keragaman daerah lainnya.Bisa menjelajahi senusantara ini dan bisa mengenal keindahan dan keragaman di negriku yang mempesona ini menjadi harapanku
Dan angin pun  mengabarkan berita bahagiaku pada teman-teman kelasku,mereka yang mengetahui kabar tentangku dari koran yang meliputku saat menjadi pemateri.Jadilah mereka mewawancaraiku  untuk meminta konfirmasi kebenaran karena aku yang belum sempat menceritakan apapun bahkan untuk mempromosikan pun aku tak sempat melakukannya.
“Adilla Sugiarti pengusaha muda yang bangga akan kota kelahirannyadan berharap bisa mempromosikan keindahan Garut dengan pedol pelanginya berbagi kisah…bla..bla.bla”Ucap Melli dengan gaya presenternya membacakan Koran
“Dil..kok gak ngasih tahu kita-kita sih?”Tanya Icha
“kalau di expose ntar di kirain sombong lagi”jawabku
”Ah..alibimu Dil,ada-ada saja,coba kalau kamu ngasih tahu kita kan bisa jadi konsumentmu”
“jadi kalau sekarang aku promosi kalian mau memborong pedolku?”
“Ah sudah kadaluarsa,sekarang bukan saatnya berbagi info tapi berbagi rezeki,hayo dana CSRmu keluarkan untuk mentraktir kita-kita”
“sudah kaya perusahaan raksasa saja ada CSR,tapi amiin deh mudah-mudahan menjadi do’a”
Jadilah aku mentraktir teman-temanku,obrolan pun terus berlanjut dan aku pun menjadi pembicara dalam agenda curcol with teman-temanku dengan tema masih tentang pedol pelangiku.dan Icha menanggapi obrolanku bahwa dirinya terinpirasi untuk membuat taucho rasa cokelat.tentu saja tanggapannya itu mengundang tawa.Terdengar aneh tapi bukankah di dunia itu tak ada yang tak mungkin ,sekarang aneh tapi nanti siapa yang tahu?nothing imposibble dan itu pun yang aku alami,dodol yang sejak kecil tak aku sukai tapi kini ia menjadi kebanggaanku.seperti kebanggaanku akan kota lahirku.Garut yang telah menginspirasiku dan mengantarkanku menemukan pelangiku,Begitu pun dengan ide Icha yang ingin mengembangkan varian rasa pada makanan khas Cianjurnya.Aku pun yakin akan sejuta inspirasi yang bisa terlahir dari keragaman daerah seantero nusantara ini yang bisa di jadikan langkah awal untuk berkontribusi terhadap nusa dan bangsa.